Category Archives: Adab dan Akhlaq

Al-Quran atau Adzan sebagai Ringtone

Oleh: Syaikh Shalih Al Fauzan

Pertanyaan:
Apa pendapat Anda tentang penggunaan adzan atau qiraat Al-Quran sebagai nada dering handphone untuk menggantikan ring tone musik?

Jawab:
Ini merendahkan azan, dzikir serta Al-Quranul Karim. Jangan pergunakan ini sebagai ring tone. Tidak boleh mempergunakan bacaan Al-Quran sebagai ring tone.

Ada yang berkata, “Ini lebih baik daripada musik!” Baiklah, tentang ring tone musik, apakah Anda terpaksa menggunakannya? Tinggalkan musik, dan pilihlah ringtone yang tidak ada musiknya dan tidak menggunakan Al-Quran. Ring tone standar saja.

Dari kaset berjudul ” لقاء مفتوح مع الشيخ العلاّمة صالح بن فوزان الفوزان – حفظه الله- ” tertanggal 23101426 H.

Diterjemahkan dari http://www.sahab.net/forums/showthread.php?threadid=344588

 

Sumber: ulamasunnah.wordpress.com

Jangan Mengeluh di Facebook

Tema: Jangan Mengeluh di Facebook
Narasumber: Bung Rayyan

Video ceramah pendek bersama Bung Rayyan tentang nasihat agar kita jangan mengeluh kepada makhluk, apalagi di jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, atau lainnya. Adukanlah semua permasalahan yang engkau hadapi hanya kepada Allah. Selain itu diceritakan pula tentang kisah menarik seorang ulama tentang tema video yang sedang kita bahas ini, selamat menyaksikan.

Sumber: Yufid.tv

Belajar dari Pengalaman Arab Saudi dalam Menumpas Terorisme

Pengantar

Setan memiliki dua pintu masuk untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Jika seseorang banyak melanggar dan berbuat maksiat, setan akan menghiasi maksiat dan nafsu syahwat untuk orang tersebut agar tetap jauh dari ketaatan. Sebaliknya jika seorang hamba taat dan rajin ibadah, setan akan membuatnya berlebihan dalam ketaatan, seh

ingga merusak agamanya dari sisi ini. Para ulama menyebut godaan jenis pertama sebagai syahwat, dan yang kedua sebagai syubhat. Meski berbeda, keduanya saling berkaitan. Syahwat biasanya dilandasi oleh syubhat, dan syubhat bisa tersemai dengan subur di ladang syahwat. (1)

Masing-masing dari dua penyakit ini membutuhkan cara penanganan khusus. Ibnul Qayyim mengatakan: “Godaan syubhat ditangkis dengan keyakinan (baca: ilmu), dan godaan syahwat ditangkis dengan kesabaran.”(2) Untuk menekan penyakit syahwat seperti zina, mabuk, pencurian, dan perampokan, agama Islam mensyariatkan hudud, berupa hukuman-hukuman fisik semacam cambuk, rajam dan potong tangan. Islam tidak mensyariatkan hudud untuk penyakit syubhat seperti berbagai bid’ah dan pemikiran menyimpang, karena syubhat tidak mudah disembuhkan dengan hudud, tapi lebih bisa diselesaikan dengan penjelasan dan ilmu. Meski demikian, kadang-kadang juga diperlukan hukuman fisik untuk menyembuhkan penyakit syubhat.

Mengikis syubhat dan berdiskusi dengan pemiliknya telah dilakukan oleh para ulama sejak zaman dahulu. Kadang-kadang mereka melakukannya dengan menulis surat, risalah, atau kitab dan kadang-kadang dengan berdialog langsung . Di samping melindungi umat dari syubhat yang ada, hal tersebut juga dimaksudkan untuk menasehati pemilik syubhat agar bisa kembali ke jalan yang benar. Read more of this post

Gila Baca ala Ulama

Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,,,

Kisah-kisah luar biasa ini saya dapat dari buku Gila Baca ala Ulama. Semoga bisa menambah motivasi dan semangat kita dalam menuntut ilmu. Amiin…

Ibnul Jauzi (Membaca 200.000 jilid buku)
Beliau berkata
“Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah aku lihat maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat katalog buku-buku wakaf di madrasah An-Nidhamiyyah yang terdiri dari 6.000 jilid buku. Aku juga melihat katalog buku Abu Hanifah, Al-Humaidi, Abdul Wahhab bin Nashir dan yang terakhir Abu Muhammad bin Khasysyab. Aku pernah membaca 200.000 jilid buku lebih. Sampai sekarang aku masih terus mencari ilmu.”

Ibnu Aqil (Membaca dan Mengasah Ilmu)
Beliau menulis
“Tidak selayaknya aku menyia-niakan usiaku meski sesaat. Oleh karena itu apabila telah lelah lisanku dari mengulang-ngulang hafalan atau berdiskusi dan kedua mataku dari membaca maka aku maksimalkan fungsi otakku ketika beristirahat. Aku tidak akan bangkit dari tempatku hingga terpikir dalam benakku sebuah masalah yang akan aku tulis. Sungguh pada usia 80 tahun ambisiku terhadap ilmu lebih tinggi daripada saat usiaku 20 tahun.”
Beliau juga berkata
“Aku berusaha membatasi seminimal mungkin waktu makanku. Sampai-sampai aku lebih menyukai makan roti kering yang dicelupkan ke dalam air agar mudah dicerna dan dikunyah daripada harus memakan roti biasa. Hal itu kulalukan agar waktu membacaku lebih banyak sehingga bisa menulis ilmu yang belum ku ketahui.”

Ibnu Taimiyyah (Gemar menelaah dan membahas buku)
Beliau pernah bercerita
“Saya tertimpa penyakit maka dokter berkata kepadaku
‘Sesungguhnya aktivitasmu dalam menelaah dan membicarakan ilmu memperparah penyakitmu’
Saya pun berkata kepadanya
‘Saya tidak sabar melakukan hal itu. Saya akan menerangkan kepadamu dengan ilmumu. Bukankah jika jiwa itu bergembira dan bahagia maka tabiatnya akan kuat sehingga mampu menolak penyakit?’
Dokter itu menjawab,
‘Ya’
Kemudian saya berkata kepadanya,
‘Sesungguhnya jiwaku bahagia dengan ilmu sehingga menjadikannya kuat dan tentram.’
Maka dokter itu berkata
‘Jika demikian maka ini di luar pengobatan kami’.”

Imam Muhammad bin Ya’qub Fairuz Abadi
Beliau berkata
“Aku telah membeli berbagai buku seharga 50.000 misqal emas”
**1 misqal ~ 4,25 gram emas (silakan dikonversi sendiri. Jangan takjub dengan jumlahnya )

Sayyid Shalah bin Ahmad Al-Yamani
Apabila beliau bersafar lalu singgah di suatu tempat, kemah buku adalah yang pertama beliau dirikan. Setelah itu beliau akan menata buku-buku tersebut. Ketika malam tiba, beliau menghabiskan seluruh malamnya untuk mendalami ilmu, menuliskannya serta mengikrarkannya dengan nalurinya yang suci.

Ibnul Mubarak
Beliau lebih suka berdiam diri di dalam rumahnya. Karena itu seseorang bertanya kepada beliau
“Apakah engkau tidak merasa kesepian?”
Beliau menjawab dengan tegas
“Bagaimana aku merasakan kesepian sedang Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya selalu bersamaku.” Read more of this post

Nasehat Bagi Muslimah Pengguna Internet

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri Hafizahullah Ta’ala

Pertanyaan Pertama:
Beberapa akhwat menulis beberapa makalah ilmiah (tentang agama –pent.) di beberapa website, mereka membantah para penulis berkenaan dengan pernyataan-pernyataan mereka. Apa pendapat syaikh tentang perkara ini?

Jawab:
Aku nasehatkan kepada seluruh muslimah, terutama para akhwat salafiyah untuk tidak larut dalam permasalahan ini karena:
Pertama: Apa yang dia lakukan ini menyita waktunya.
Kedua: Perkara ini justru mengekspos dirinya untuk menjadi ejekan dan objek hiburan bagi orang-orang yang ngawur dan berpenyakit hatinya.

Read more of this post

Aku dan Presiden SBY…

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh : Ustadz Abu Adib

Aku adalah segelintir hamba Allah yang ditaqdirkan hidup di bumi Indonesia. Sedangkan SBY adalah presiden dan pemimpinku. Dan yang aku ketahui beliau adalah seorang muslim, dan aku belum pernah melihat beliau melakukan tindakan kekufuran yang nyata. Kewajibanku, sebagai anak bangsa adalah selalu mentaati perintahnya selama perintah itu tidak melanggar syari’at Tuhanku.

Allah Yang Maha Mulia berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan taatilah ulil amri diantara kalian”. (QS. An-Nisa’ : 59)

Ayat ini adalah sangat jelas bahwasanya Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya serta mentaati Ulil Amri.

Diterangkan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya, bahwa makna ulil amri adalah ‘Ulama dan ‘Umara (pemerintah). Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan mutlaq. Sedangkan ketaatan kepada pemerintah adalah ketaatan yang tidak mutlaq. Artinya, selama perintahnya itu tidak bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka kita wajib mentaatinya. Read more of this post