Yang Menghalangi Antara Dirimu Dengan Taubat (Bagian 2)

Oleh: Abdul Muhsin bin Abdur Rahman

Suatu hari ada seseorang datang kepada Nabi dan bertanya kepada beliau,

Bagaimana jika seseorang melakukan semua perbuatan dosa tanpa satu pun dosa yang belum pernah ia lakukan. Apakah ia masih bisa mendapat pengampunan?

Rasulullah bertanya, “Sudahkah kau masuk Islam?” Orang itu menjawab, “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya.” Rasulullah bersabda,

Mulailah engkau mengejakan berbagai kebajikan dan meninggalkan segala kejahatan, niscaya Allah akan menjadikan semua itu sebagai kebajikan bagimu.

Orang itu bertanya lagi, “Apakah segala kejahatan dari kesalahanku akan diampuni?” Beliau menjawab, “Ya!” Orang itu segera bertakbir berulang-ulang hingga ia meninggalkan Nabi. 4


Wahai orang yang fakir di hadapan Tuhan, meski engkau kaya di duniamu, apalagi yang engkau inginkan setelah datangnya kabar gembira ini? Kembalilah kepada Tuhanmu, karena kembali kepada Tuhanmu itu lebih terpuji bagimu didunia maupun diakhirat.

Di dunia mendapatkan ketenangan hati, kelapangan dan kemudahan rizki.

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (At-Thalaq: 2-3).

Bila kita mendapatkan rizki berbentuk harta, ia akan mendapatkan rizki berbentuk bertambahnya keimanan. Sedangkan di akhirat, ia mendapatkan,

(Yaitu) surga Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bertelekan (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan yang banyak dan minuman di surga itu. Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya. Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari berhisab. Sesungguhnya ini benar-benar rizki dari Kami yang tiada habis-habisnya. (Shaad: 50-54).

Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi,

Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali yang Aku ber petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan beri petunjuk. 5

Saudaraku, -semoga Allah menerima taubat kita- renungkan cerita berikut ini. Ambillah hikmah dan pelajaran daripadanya. Tetapi sebelumnya, renungkanlah ayat berikut ini,

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al-Hadid: 16).

Saya pernah bertemu dengan seorang da’i yang shalih dan jujur. Syaikh ini berkata kepadaku,

Di samping kami ada sebuah keluarga kecil, di antara anggota keluarganya ada seorang pemuda yang umurnya baru mencapai sekitar 20 tahun. Ia sangat menyenangi lagu-lagu hingga ia jatuh cinta dengan seorang penyanyi perempuan (biduanita). Ia tidak saja senang dengan lagu-lagunya, akan tetapi juga senang dengan penyanyi tersebut.

Saya seringkali menasehatinya bila ada kesempatan. Kadang-kadang saya bercerita tentang surga, kadang-kadang saya menakut-nakutinya dengan siksa neraka. Bila saya selesai menasehatinya, kadang air matanya mengalir, bahkan kadang ia menangis, lalu ia berjanji untuk tidak melakukan lagi perbuatannya itu. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena kemudian ia mengingkari janjinya.

Seorang penyair berkata,

Mataku berlinang, menangisi diriku yang telah bermaksiat terhadap Tuhan

siapa yang lebih berhak dari diriku dengan bersedih hati dan berbagai dosa yang terputus ujungnya

kau tak kuasa menghalangi maksiat dan dirimu tak taku terhadap Tuhanmu

kau bertaubat di pagi hari dan kau batalkan di sore hari

kau batalkan janji-Nya dari waktu ke waktu seakan-akan Allah tidak melihatnya.

Saya merasa kali ini nasehat saya akan mampu mempengaruhinya, maka saya katakan kepadanya, “Kemarikan tanganmu!” Ia pun memberikan tangannya kepada saya, dan saya katakan kepadanya, “Berjanjilah kepada Allah kemudian kepadaku untuk tidak mengulangi perbuatan itu!” Ia pun berkata, “Saya berjanji kepada Allah kemudian kepada anda untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu.”

Pada pagi harinya ia datang kepada saya sambil membawa kaset-kaset lagu, dan berkata kepada saya,

Ambillah kaset-kaset ini, bakarlah, hancurkanlah, atau terserah mau kau apakan. Yang penting, bebaskan saya dari penyakit hati yang telah melalaikan saya dari shalat dan mengingat Tuhan bumi dan langit.

Saya pun berkata, “Maha Suci Dzat yang membalikkan hati. Katakan, apa yang telah terjadi?” Anak muda itu pun berkata kepada saya,

Setelah saya meninggalkanmu tadi malam, saya langsung pulang di rumah lalu tidur. Dalam tidur itu saya bermimpi berjalan di sebuah pantai. Tiba-tiba bertemu dengan salah seorang teman yang berkata kepada saya, “Apakah engkau suka seorang wanita si Fulanah?” Saya pun menjawab, “Ya!” Ia berkata, “Ia di sana sedang menyani.”

Saya segera berlari, berlari dan berlari karena ingin segera melihatnya, karena saya sangat mencintainya. Ketika saya sudah kelelahan, saya sampai dan melihatnya sedang menyanyi. Saya sangat terkesan dengan wanita itu, juga suaranya.

Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba saya merasakan sebuah tangan yang memegang pundak saya, saya pun menoleh. Yang terlihat adalah sebuah wajah bersinar seperti bulan purnama, dihiasi dengan jenggot yang indah. Tampak pada wajahnya cahaya kebaikan. Ia membacakan sebuah ayat kepadaku,

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (Al-Mulk: 22).

Dia mengulang-ulang ayat tersebut dengan suara merdu, dan mulai menangis hingga saya terpengaruh olehnya, mulailah saya menangis sambil mengulang-ulang ayat itu, tiba-tiba saya terbangun sembari mengulang-ulang ayat tersebut,

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (Al-Mulk: 22).

Saya pun menangis, kemudian ibu saya masuk. Sewaktu melihat saya menangis seperti itu, ia pun terpengaruh dan ikut menangis bersama saya.

Syaikh berkata,

Setelah itu, anak muda tadi menjadi sangat benci dengan nyanyian dan mulai menyenangi membaca al-Qur’an dan menikmatinya. Saya bisa melihatnya dari air mata yang mengalir dari kedua matanya di saat membaca Al-Qur’an.

Saudaraku, catatlah baik-baik kisah taubat ini dengan pena kerinduan dan tinta air mata. Berusahalah selalu untuk mengutamakan rendah hati menuju ketenangan. Mohonlah peningkatannya, terkadang permintaan itu dikabulkan. Menangislah atas segala dosa maupun sedikit syukur.

 ————————————————————————————

Catatan Kaki:
4. Akan tetapi ia mengamalkan syahadat dengan semua konsekuensinya, tidak sekedar mengucapkan dengan lisannya saja. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Ath-Thabranidalam kitab At-Targhib wat Tarhib karya Al-Mundziri.
5. HR. Muslim.

6. Disadur dari kitab At-Tabsirah karya Ibnul Jauzi Juz 1, hal. 362 cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyah.

————————————————————————————

Disalin dari terjemahan kitab “Fasatadzkuruna ma Aqulu Lakum”, edisi
Indonesia “Bagaimana Bila Ajal Tiba” oleh Abdul Muhsin bin Abdur Rahman, Darul Haq, hal. 38 – 52.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: